Jumat, 23 Agustus 2019 – 21:25 WIB

Pengelola Busway Belum Punya Solusi

Rabu, 12 Januari 2011 – 13:08 WIB
Pengelola Busway Belum Punya Solusi - JPNN.COM

JAKARTA - Sterilisasi jalur busway yang digencarkan di koridor IX Pinangranti-Pluit, serta koridor X Cililitan-Tanjung Priok, sempat memicu kemacetan, kemarin (11/1). Penyebabnya, aparat kepolisian yang biasanya menjaga titik-titik rawan kemacetan, dialihkan untuk ikut bergabung melakukan sterilisasi.

Seperti yang dilaporkan petugas TMC Polda Metro Jaya, kemacetan akibat minimnya petugas itu tampak di kawasan Casablanca, Karet, Sudirman. "Beberapa personel yang berjaga dialihkan untuk sterilisasi jalur busway di koridor IX dan koridor X. Jadi, petugas kepolisian jumlahnya sedikit untuk mengurangi kemacetan," ujar petugas TMC Polda Metro Jaya Briptu Ari, kemarin.

Minimnya petugas pada titik-titik rawan kemacetan itu, berdampak kemacetan semakin panjang di ruas jalan yang lain. Seperti sepanjang Rasuna Said, Mampang Prapatan serta Gatot Subroto. Namun, diakui petugas TMC, kemacetan yang terjadi kemarin bukan hanya dipicu akibat minimnya petugas. Tapi juga faktor lain seperti banyaknya persimpangan dan bottle neck, di samping juga akibat adanya pembangunan jalan layang di Jalan Satrio.

Kemacetan yang terjadi kemarin diakui para pengguna jalan memang berbeda dibanding hari biasanya. Kemacetan sangat terasa. Seperti diakui Helmi Yahya (30), warga Cipinang Kebembem, Jakarta Timur. Dari Cipinang hingga Atma Jaya di Sudirman, katanya, dibutuhkan waktu sekitar satu jam. Padahal, pada hari biasa maksimal 30 menit.

Sementara, menurut Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, jalur busway memang harus disterilkan. Sebagai angkutan massal, busway harus diprioritaskan. Hal itu untuk kepentingan publik masyarakat banyak. Jika tidak ingin terjebak kemacetan, disarankan untuk naik angkutan umum massal dan meninggalkan kendaraan pribadinya. Mengingat kemacetan di kawasan ibukota katanya, adalah akibat membludaknya kendaraan pribadi, di mana kapasitas jalan tidak mampu menampung seluruh kendaraan yang ada.

Menanggapi pernyataan Kapolda Irjen Pol Sutarman, agar busway memiliki jalur tersendiri seperti flyover atau underpass, hal itu menurut Fauzi Bowo bisa saja direalisasikan. Namun, dibutuhkan dana yang cukup besar. "Kalau dananya tidak ada, mau apa? Angkutan massal ini kan untuk kepentingan publik masyarakat banyak," terangnya pula.

Sementara itu, Manager Perencanaan, Operasi dan Tiketing BLU Transjakarta, Susilo Dewanto mengaku, antusiasme masyarakat untuk naik busway terus bertambah. Seperti yang terpantau pada koridor IX Pinangranti-Pluit dan koridor X Cililitan-Tanjung Priok, di mana data menunjukkan untuk koridor IX, jumlah penumpang pada 31 Desember 2010 mencapai 1.575 penumpang. Lalu 1 Januari 2011 sebanyak 6.168 penumpang, 2 Januari 5.472 penumpang, 3 Januari 7.988 penumpang, 4 Januari 10.269 penumpang, 5 Januari 11.951 penumpang dan 6 Januari 14.032 penumpang. Kemudian pada 7 Januari (ada sebanyak) 16.132 penumpang, 8 Januari 11.861 penumpang dan 9 Januari mencapai 11.008 penumpang.

Disebutkan lagi, untuk penumpang koridor X, jumlah penumpang pada 31 Desember 2010 mencapai 1.068 penumpang, 1 Januari 2011 sebanyak 5.225 penumpang, 2 Januari 4.731 penumpang, 3 Januari 6.538 penumpang, 4 Januari 7.731 penumpang, 5 Januari 8.255 penumpang, 6 Januari 8.356 penumpang, hingg 7 Januari sebanyak 8.485 penumpang. Kemudian pada 8 Januari ada 7.182 penumpang dan 9 Januari 4.877 penumpang.

"Jika jalur busway sudah steril, jumlah penumpang busway akan terus meningkat," kata Kepala Dinas Perhubungan DKI, Udar Pristono pula. (aak)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar