Penghuni Lapas Gunung Sindur Cuci Kaki Orang Tua dan Minta Maaf

Penghuni Lapas Gunung Sindur Cuci Kaki Orang Tua dan Minta Maaf
Warga binaan di Lapas Gunung Sindur. Foto : Ist

Kalapas juga rutin melakukan pertemuan saat apel pagi dan tatap muka di tempat ibadah. Dua pekan sekali digelar sesi curhat.

Di saat itu ditekankan pemahaman bahwa semua narapidana memiliki hak yang sama. Tidak ada yang diistimewakan.

Setiap lapas punya cara berbeda mengimplementasikan revitalisasi. Begitu pula LAPAS Kelas III Gunung Sindur. Di sini, revitalisasi diarahkan pada pembinaan bakat dan kemampuan setiap WBP.

“Kami membangun perpustakaan di setiap blok. Ya, kecil saja, tapi buku-bukunya selalu ganti,” kata Sopiana. “Kami juga menyediakan peralatan musik, dengan waktu bermain setiap Jumat sore," tuturnya.

Khusus perpustakaan, LAPAS Kelas III Gunung Sindur bekerjasama dengan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Bogor. Semuanya tanpa biaya.

Ada pula ruang video call, untuk memberi hak berkomunikasi narapidana kepada keluarganya. Khusus yang ini, pihak LAPAS bekerja sama dengan pihak swasta sebagai penyedia perangkat teknologi.

“Layanan pengobatan gratis kami lakukan dengan jemput bola,” kata Sopiana. “Dua perawat menyambangi setiap blok sebulan sekali untuk melihat kondisi kesehatan setiap warga binaan.”

BACA JUGA : PA 212 Siap di Garis Terdepan Menolak Ahok

Petugas Lapas juga melihat bakat setiap WBP dan memberikan fasilitas untuk mengembangkan bakat dan kemampuan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News