JPNN.com

Pimpin GHSA Tahun Depan, Indonesia Siapkan Strategi Menangkal Virus Mematikan

Senin, 30 November 2015 – 21:21 WIB Pimpin GHSA Tahun Depan, Indonesia Siapkan Strategi Menangkal Virus Mematikan - JPNN.com
Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani (tengah) bersama Menkopolhukam Luhut Panjaitan (kanan) dan Menteri Kesehatan Nila F Moeloek (kiri) di Jakarta, Senin (30/11). Foto: Kemenko PMK for JPNN.Com

JAKARTA - Pemerintah pada tahun depan bakal punya posisi penting dalam upaya pemberantasan virus mematikan. Rencananya, Indonesia bakal memimpin kelompok pengarah (steering group) Global Health Security Agenda (GHSA) pada tahun 2016.

GHSA kini telah memiliki anggota hingga 40 negara. Sedangkan negara yang masuk dalam steering group hanya 10 saja.

Sebelumnya, steering group GHSA 2015 yang terdiri dari 10 negara dipimpin oleh Finlandia. Sedangkan pada 2017 nanti, posisi ketua steering group akan beralih dari Indonesia ke Korea Selatan. Sedangkan jumlah negara yang kini tergabung dalam GHSA sudah mencapai 40.

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mengatakan, pemerintah Indonesia dengan posisinya sebagai ketua steering group GHSA akan berupaya memperjuangkan kepentingan nasional. Terlebih, katanya, Indonesia juga menjadi harapan bagi negara-negara berkembang.

"Kita berkeinginan sebagai representasi dari negara-negara berkembang tidak ingin penyakit menular itu masuk ke Indonesia dan juga negara lain," ujar Puan usai rapat di Kemenko PMK, Senin (30/11) untuk mempersiapkan pertemuan steering group GHSA di Yogyakarta pada 3-4 Desember mendatang.

Puan menjelaskan, forum internasional itu akan banyak membicarakan penyakit menular. Antara lain wabah Ebola, severe acute respiratory syndrome (SARS) dan Middle East respiratory syndrome (MERS).

Puan menambahkan, virus dan penyakit kini sudah bukan menjadi isu kesehatan. Sebab, kini masalah virus juga terkait dengan persoalan keamanan.

Karenanya forum GHSA nanti akan membahas kerja sama di antara 40 negara terkait penelitian dan penanganan virus. “Yakni membahas bagaimana penelitian-penelitian terkait virus dan bioterorism. Itu bisa disatupadukan dengan 40 negara lainnya," ujar Puan.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...