Porang Porong

Oleh: Dahlan Iskan

Porang Porong
Dahlan Iskan. Foto: disway.id

Petani membuang-buang ubi porang agar jangan mengganggu tanaman lain. Namun, porang itu sakti. Ubi yang dibuang-buang itu tumbuh lagi dan tumbuh lagi.

Delegasi Jepang itu akhirnya menemukan tanaman porang di Mojokerto. Lalu di Blitar. Madiun. Dan di mana saja di Jawa.

Ishii diminta membeli ubi itu. Yang kalau dimakan membuat seluruh mulut gatal-gatal. Petani terheran-heran ada orang membeli ubi porang. Setelah tahu pembelinya orang Jepang rumor pun beredar di kalangan petani: ubi porang itu akan dipakai Jepang untuk membuat senjata perang.

Dengan rumor itu petani tetap tidak tertarik untuk menanam porang: tidak bisa dimakan.

Ishii pun mendirikan pabrik porang. Awalnya sederhana. Hanya untuk membuat chip porang –keripik mentah.

Keripik itu dikeringkan dengan oven. Lalu diekspor ke Jepang. Di sana chip itu dijadikan tepung. Itu bukan sembarang tepung. Tepung yang sudah dimurnikan –sudah dibuang unsur yang membuat rasa gatal. Itulah yang disebut tepung glukomanan –juga disebut shirataki. Atau konyaku.

Setelah porang jadi tepung apa pun bisa dibuat: butiran beras, mi atau makanan apa saja.

Sambil membuat chip, PT Ambico juga terus belajar teknologi pemurnian tepung porang.

Zaman itu porang dianggap sebagai tanaman liar. Tanaman pengganggu. Petani membuang-buang ubi porang agar jangan mengganggu tanaman lain.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News