Semester I, Bea Cukai Raih penerimaan Tertinggi Dalam 3 Tahun Terakhir

Semester I, Bea Cukai Raih penerimaan Tertinggi Dalam 3 Tahun Terakhir
Foto: Bea Cukai

Tekanan serupa juga terjadi pada aktifitas ekspor impor nasional. Sepanjang Jan-Juni 2019, volume impor turun xx% (yoy) dibanding volume impor pada periode serupa 2018.

Pelemahan aktifitas impor terjadi merata di seluruh klasifikasi barang utama (BEC). Hal ini membuat bea cukai terus mewaspadai dampak perang dagang terhadap kinerja impor nasional dan berupaya mengembangkan langkah-langkah stimulus dan pengamanan (countercyclical),

diantaranya untuk memfasilitasi peningkatan aktifitas ekspor-impor yang produktif melalui pemberian insentif fiskal dan prosedural di bidang kepabenan, perbaikan kualitas dan percepatan layanan serta upaya peningkatan kepatuhan (compliance) para pengguna jasa kepabeanan.

Realisasi penerimaan bea keluar (BK) sampai dengan 30 Juni 2019 mencapai Rp 1,63 triliun atau 36,87 persen dari target yang diamanatkan APBN tahun 2019. Realisasi ini turun 50,32% dibanding kinerja BK Semester I 2018. Hal ini disebabkan oleh penurunan ekspor mineral (tambang) terutama konsentrat tembaga sebagai kontributor utama BK sepanjang Semester I.

Menurunnya ekspor konsentrat tembaga ini tidak terlepas dari penyesuaian

(relokasi) eksplorasi tambang oleh para penambang utama. Di sisi eksternal, lesunya harga komoditas di pasar global juga memberikan tekanan pada penerimaan BK khususnya dari komoditas kelapa sawit.

Namun demikian, di sisi lain tercatat terjadi pertumbuhan positif penerimaan BK dari komoditas bauksit dan nikel serta komoditas selain mineral seperti biji

kakao.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) merupakan salah satu instrumen kebijakan fiskal pemerintah, yang mempunyai tiga fungsi utama yaitu fungsi alokasi, distribusi, dan stabilisasi.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News