Soal Pengembangan Panas Bumi, Indonesia Lebih Agresif Dibanding Negara Lain

Soal Pengembangan Panas Bumi, Indonesia Lebih Agresif Dibanding Negara Lain
Pemanfaatan energi panas bumi. Foto: dok for jpnn

Ini diharapkan bisa memberikan penyesuaian dari sisi harga.

“Harga panas bumi, saat ini sedang saya lunakkan. Saya akan dorong panas bumi yang layak secara keekonomiannya, sehingga bisa memanfaatkan panas bumi itu sebagai baseload. Keekonomiannya win win dari sisi konsumen dan produsen,” katanya.

Menurut Direktur Utama PT Geo Dipa Energi Riki Ibrahim tantangan pengembangan panas bumi adalah harga EBT yang masih harus bersaing dengan pembangkit fosil, terbatasnya lembaga keuangan yang bersedia memberikan pinjaman dalam fase esplorasi dan masih banyak lagi.

“Saya sampaikan untuk eksplorasi panas bumi itu risikonya tidak sebesar migas. Khusus di lapangan di Indonesia, termasuk yang baru, dari sisi resiko itu 40%, tidak begitu besar,” tutur Riki.

Untuk itu, pengembangan panas bumi harus dilakukan bertahap dan perusahaan yang terjun di sana harus yang mempunyai visi dan misi jangka panjang.

PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) misalnya sudah melakukan 39-40 tahun untuk pengembangan panas bumi melalui PLTP Kamojang.

“Jadi bagaimana caranya agar risiko eksplorasi itu jangan dilihat sebagai jangka pendek. Masih perlu kajian ulang untuk harga panas bumi, agar swasta bisa betul betul masuk ke panas bumi,” kata dia.

Riki mengatakan pemerintah sedang dalam keadaan dilema, ingin mengembangkan EBT dengan harga reliable, tapi disisi lain harus memberikan subsidi ke PLN.

Pemerintah akan mendukung pengembangan panas bumi dengan berbagai insentif yang dimungkinkan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News