Jumat, 19 Juli 2019 – 19:14 WIB

Solar Langka, Pelabuhan Sampit Lumpuh Total

Jumat, 13 Mei 2011 – 13:23 WIB
Solar Langka, Pelabuhan Sampit Lumpuh Total - JPNN.COM

SAMPIT – Kelangkaan bahan bakar jenis solar mulai menuai dampak luas bagi perekonomian di Kotim. Sejak dua hari terakhir aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Sampit lumpuh total. Ratusan truk yang biasanya lalu-lalang mengangkut barang dari kapal tidak ada yang terlihat. Lumpuhnya aktivitas bongkar muat ini juga menyebabkan sekitar 450 buruh Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) tidak bekerja.

Pantauan Radar Sampit (JPNN Grup) di kawasan pelabuhan Sampit, Kamis (12/5), terhentinya aktivitas juga meluas hingga pelabuhan milik Pemkab Kotim hingga sejumlah pelabuhan kecil lainnya. Setidaknya ada sembilan kapal pengangkut bahan bangunan dan pupuk yang terpaksa harus parkir di pelabuhan tanpa ada aktivitas.


Kondisi ini sangat disesalkan oleh pihak Pelindo III Cabang Sampit dan Assosiasi Pengusaha Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Sampit.

”Terganggunya aktivitas bongkar muat ini terjadi sejak Senin (9/5). Puncaknya dua hari terakhir ini. Para supir truk kesulitan memperoleh bahan bakar solar dan mereka lebih memilih antri di SPBU,” ungkap General Manajer Pelindo III, Sampit Abdul Rofiq Fanany.

Ia khawatir jika ini terus berlangsung maka akan memperlambat roda perekonomian di Kotim. Karena otomatis cost yang harus ditanggung oleh pemilik kapal dan barang selama di pelabuhan akan naik sehingga harga akan naik dan masyarakat yang akan menanggungnya. Untungnya, di sejumlah pelabuhan yang ada di Sampit tersebut tidak terlalu banyak membawa sembako karena sudah banyak yang menggunakan kontainer dan mobil box melalui Pelabuhan Bagendang. Untuk aktivitas pelabuhan Bagendang sendiri, dikatakannya masih dalam keadaan normal karena sebagian besar truk dan mobil angkut di sana menggunakan solar industri dan bensin.

Jainudin yang merupakan salah satu awak KM Hosanna yang berasal dari Gresik mengatakan akibat terhentinya aktivitas tersebut mereka terpaksa harus menunggu lebih lama di kapal dan otomatis menambah biaya hidup selama berada di pelabuhan. ”Ya kita mau bagaimana lagi mas truk angkutnya tidak ada. Terpaksa kita harus menunggu di sini sampai keadaan normal,” ungkapnya.

Berdasarkan perhitungan dari pihak Pelindo, dalam satu hari minimal satu unit kapal bisa membongkar hingga 260 ton pupuk dengan didukung oleh sekitar 35 hingga 40 truk angkut dan rata-rata satu kapal mengangkut hingga 1000 ton. Namun sejak seminggu terakhir ini, untuk membongkar 100 ton saja terbilang sulit sekali akibat tidak adanya armada.

Sementara itu bagi tenaga kerja bongkar muat, terhentinya aktivitas di pelabuhan ini membuat penghasilan mereka turun drastis, biasanya mereka mengharapkan upah borongan dari jasa bongkar muat barang dari dan ke kapal. Untuk tetap bertahan hidup dan bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, beberapa hari terakhir ini banyak dari mereka yang bealih profesi sementara seperti menjadi tukang ojek, tukang becak, tukang bangunan, kuli di pasar dan lain sebagainya.

Abdul Rofiq menambahkan kondisi ini harus disikapi serius terutam dari pihak Hiswana Migas dan Pertamina. Ia yakin hal ini disebabkan ada yang tidak beres dalam pendistribusian bahan bakar jenis solar, sehingga dampaknya sangat luas termasuk menyebabkan lumpuhnya aktivitas di pelabuhan. Karena itu untuk menyikapi hal itu, segera pihaknya akan membicarakan hal ini kepada pemerintah kabupaten dengan juga melibatkan pihak assosiasi yang berhubungan dengan masalah ini.

”Sangat di sayangkan padahal daerah ini sedang giat-giatnya membangun. Tetapi kalau kondisinya seperti ini, roda perekonomian akan berjalan lamban dan akan terjadi inflasi yang cukup tinggi,” pungkas pria yang akrab disapa Ifan ini. (gus/fuz/jpnn)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar