Sukmawati

Dhimam Abror Djuraid

Sukmawati
Sukmawati Soekarnoputri. Foto: Ricardo/JPNN.com

Bagi kalangan Islam cara pandang--atau cara dengar—Sukmawati terhadap azan, dan memperbandingkannya dengan kidung, adalah penghinaan, karena mempersamakan kidung yang hasil olah seni manusia yang profan, dengan azan yang merupakan panggilan religius yang bersifat transendental. 

Sukmawati tidak bisa membedakan karya seni, sebagai bagian dari budaya, dengan ritual agama yang menjadi bagian dari syariat yang didasarkan pada wahyu ilahiah.

Memperbandingkan budaya dengan agama selalu menimbulkan kontroversi, karena budaya adalah karya manusia yang bersifat nisbi sementara agama adalah wahyu yang bersifat mutlak.

Untunglah Sukmawati mengakui bahwa dia tidak paham syariat Islam. Pengakuan itu menjadi semacam disklaimer bahwa dia tidak memahami sepenuhnya konsep-konsep Islam, yang notabene adalah agama formal yang ia peluk.

Seharusnya, karena tidak memahami Islam secara utuh Sukmawati tidak melakukan perbandingan itu.

Sukmawati juga memperbandingkan bapaknya, Soekarno, dengan Nabi Muhammad saw. Sebuah perbandingan yang kembali memantik kritik, kecaman, dan laporan ke polisi.

Kali ini Sukmawati tidak memberikan disklaimer bahwa dia sebenarnya tidak paham mengenai historiografi dan biografi Muhammad saw.
Seharusnya dia melakukan disklaimer itu, sehingga perbandingan antara Soekarno dan Muhammad saw itu bisa dimaklumi sebagai perbandingan yang subjektif dan naif dari seorang anak terhadap bapak.

Dengan disklaimer itu publik bisa mafhum bahwa Sukmawati tidak pernah membaca ‘’Sirah Nabawiah’’, dan tidak memahami posisi sejarah Muhammad saw.

Upacara pindah agama yang dilakukan Sukmawati mungkin akan digoreng sebagai isu untuk mendegradasikan Islam politik.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News