Sultan Qaboos bin Said, Bapak Pembangunan Oman yang Menggulingkan Ayahnya Sendiri

Sultan Qaboos bin Said, Bapak Pembangunan Oman yang Menggulingkan Ayahnya Sendiri
Sultan Oman Qaboos bin Said. Foto: Reuters

Muscat menjaga hubungan dengan Teheran dan Baghdad selama Perang Iran-Irak 1980-88, dan dengan Iran dan Amerika Serikat setelah hubungan diplomatik mereka rontok pada 1979.

Oman membantu memediasi pembicaraan rahasia AS-Iran pada 2013 yang menghasilkan pakta nuklir internasional bersejarah dua tahun kemudian.

Qaboos yang berjanggut putih membuat penampilan publik terakhirnya pada Oktober 2018 ketika ia bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada kunjungan langka ke Oman. Sementara negara-negara Teluk lainnya telah memulai hubungan dengan Israel, tidak ada pemimpin mereka yang secara terbuka bertemu dengan Netanyahu.

Qaboos, penguasa kedelapan dari dinasti al-Said yang memerintah Oman sejak 1744, lahir pada 18 November 1940 di Dhofar.

Pada 1958 dia menuju ke Inggris untuk menyelesaikan pendidikannya, memperkuat hubungan bersejarah antara negara itu dengan keluarga kerajaan Oman. Dia belajar selama dua tahun di Akademi Militer Kerajaan di Sandhurst dan sempat bergabung selama enam bulan dengan tentara Inggris yang bertugas di Jerman Barat. Dia kembali ke Inggris pada tahun 1962 untuk mempelajari pemerintah daerah.

Dari tahun 1964-1970, Qaboos dikurung di istana kerajaan di Salalah dan tidak diberi peran apa pun dalam pemerintahan Oman.

Dia menjadi kecewa dengan metode ayahnya dan skeptis terhadap kemampuan tentara untuk mengalahkan pemberontak Dhofari.

Ketika ekspor minyak dimulai pada 1967, Sultan Said, yang terbiasa dengan keuangan yang ketat, enggan menggunakan pendapatan untuk pembangunan.

Sultan Qaboos bin Said mengubah Oman dalam 49 tahun masa pemerintahannya dari negara yang dilanda kemiskinan dan didera perbedaan pendapat menjadi negara makmur dan mediator terpercaya

Sumber Antara

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News