Tolak Voorijder, Minta Dipanggil 'Mas Tjahjo' Saja

Tolak Voorijder, Minta Dipanggil 'Mas Tjahjo' Saja
Tolak Voorijder, Minta Dipanggil 'Mas Tjahjo' Saja

jpnn.com - JAKARTA – Tjahjo Kumolo merasa tak nyaman dengan birokrasi yang berbelit. Karena itu saat dirinya menjabat Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo ingin memangkasnya agar dapat lebih efisien.

“Selama ini kan birokrasi misalnya disposisi itu dari menteri ke sekjen, lalu ke Eselon I, terus dari Eselon I ke Eselon II dan Eselon III. Kalau demikian waktunya kan bisa berbulan-bulan. Jadi saya cukup dengan pak sekjen saja. Biar sekjen bisa cepat kerjakan. Ini juga nanti teknisnya disampaikan sekjen dalam rapat kerja (dengan seluruh kepala daerah,red). Agar disampaikan ke kepala daerah, untuk memangkas birokrasi dengan cepat,” kata Tjahjo dalam rapat perdana dengan seluruh jajaran pejabat Eselon I di lingkungan Kemendagri, Jakarta, Senin petang.

Selain ingin memangkas alur birokrasi, dalam melaksanakan tugas sehari-hari Tjahjo juga mengaku tak ingin mendapat pengawalan berlebih, termasuk pengawalan dari vorrijder saat berada di jalan raya dan menggunakan ajudan.

“Saya tidak ingin pengawalan voorrijder, kecuali waktunya mepet. Mobil dinas parkir di sini. Sepanjang acara dinas baru saya pakai. Saya hanya bawa satu sekretaris saja untuk ikut mendampingi saya,” katanya.

Pria kelahiran kelahiran Surakarta, 1 Desember 1957 ini, mengaku juga merasa lebih nyaman jika para birokrat yang ada di Kemendagri memanggilnya dengan sebutan Pak Tjahjo atau mas Tjahjo. Bukan pak menteri sebagaimana para menteri selama ini disapa.

“Kita satu keluarga, saya risih dipanggil pak menteri. Panggil Pak Tjahjo aja atau Mas Tjahjo. Saya mohon di antara kita, kecuali acara resmi (boleh panggil pak menteri),” katanya.(gir/jpnn)

 


JAKARTA – Tjahjo Kumolo merasa tak nyaman dengan birokrasi yang berbelit. Karena itu saat dirinya menjabat Menteri Dalam Negeri (Mendagri),


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News