Tutup Telinga

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Tutup Telinga
Presiden Joko Widodo. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - Dalam budaya Jepang dikenal kisah tradisional mengenai ‘’Tiga Monyet Bijaksana’’ bernama Mizaru, Iwazaru, dan Kikazaru.

Tiga monyet itu mempunyai kekhasan masing-masing. Mizaru tidak mau melihat setan, karena itu dia menutup matanya.

Iwazaru tidak mau berbicara seperti setan, karena itu dia menutup mulutnya.

Kikarazu tidak mau mendengarkan suara setan, karena itu dia menutup kupingnya.

Trio monyet bijaksana ini menjadi kisah yang populer di Jepang dan dikaitkan dengan filosofi Buddha. Aksi tiga monyet itu merupakan tindakan spiritual untuk menjaga kebersihan jiwa, dengan cara menghindarkan mata, mulut, dan telinga dari perbuatan maksiat.

Dari kisah tiga monyet itu kemudian lahir pribahasa yang sangat dikenal di dunia Barat, yaitu ‘’See No Evil, Speak No Evil, Hear No Evil’’ (tidak melihat setan, tidak berbicara seperti setan, tidak mendengar suara setan).

Tiga monyet yang menutup mata, mulut, dan telinga itu menjadi ikon budaya dan spiritual yang dikenal luas di budaya Asia Timur.

Di Indonesia, kisah tiga monyet itu mungkin tidak terlalu terkenal seperti di Jepang. Namun, beberapa hari terakhir ini di jagat maya Indonesia beredar luas gerakan tutup telinga mirip tiga monyet Jepang itu.

Presiden Jokowi yang menjadi sasaran parodi tutup telinga, sudah lama dianggap melakukan gerakan tutup telinga.