JPNN.com

Vape Efektif Kurangi Perokok, Begini Penjelasan Dokter

Jumat, 11 Oktober 2019 – 08:54 WIB Vape Efektif Kurangi Perokok, Begini Penjelasan Dokter - JPNN.com
berhenti merokok. Foto Arturs-Budkevics/Shutterstock

jpnn.com, JAKARTA - Dunia medis mulai melihat dampak positif dari rokok elektrik atau vape. Dibandingkan rokok konvensional, produk alternatif itu dinilai efektif menekan tingginya prevalensi perokok aktif di Indonesia.

Dokter Arifandi Sanjaya mengatakan, vape jauh lebih baik ketimbang rokok konvensional. Baik itu dari derajat pemanasan maupun zat kimia yang terbentuk dari proses pemanasan tersebut.

”Beberapa pasien saya sempat nyoba (vape). Ternyata yang punya amandel, punya asma, lebih jarang kambuh dibanding saat masih menggunakan rokok," ungkap Arifandi di sela diskusi #sayapilihvape, di kawasan Ampera, Jakarta Selatan.

Memang, kata Arifandi, jika pertanyaannya lebih baik beralih ke vape atau langsung berhenti merokok maka jawabannya sebaiknya langsung berhenti. ”Kalau bisa. Tapi kan tidak semua orang bisa. Makanya, vape ini sebagai jembatan untuk orang yang mau berhenti merokok. Karena sensasinya memang mirip rokok,” terangnya.

Arifandi tidak menampik vape juga memiliki risiko. Hanya saja risikonya jauh lebih kecil dibandingkan rokok biasa. ”Risiko tersebut bisa diminimalisir dengan bekal informasi yang cukup dalam penggunaannya,” ucap Arifandi lantas menyebutkan beberapa hal yang penting untuk diperhatikan bagi para vapers.

Pertama, kata dia, perawatan dari mod atau alat vapenya itu sendiri. Mulai dari baterai sampai bagian lainnya. ”Jangan overcharging. Kalau pembungkusnya sudah rusak ya harus dibenerin lagi. Yang namanya kawat, kapas, tentu ada masa berlakunya. Kalau sudah dipakai tiga sampai empat hari harus diganti," sarannya.

Penggunaan liquid, lanjut Arifandi, juga harus diperhatikan. Baiknya vapers menyesuaikan jumlah liquid dengan tingkat konsumsi nikotin saat masih menggunakan rokok konvensional. ”Yang penting jangan over (berlebihan)”.

Arifandi sekaligus menjelaskan tentang sempat ramainya kasus kematian yang terjadi di Amerika Serikat (AS). Dia meyakini tidak akan terjadi di Indonesia. Sebab kasus itu diakibatkan penyalahgunaan narkotika berupa cairan ganja.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...