Vape Tidak Sebabkan Naiknya Angka Perokok, Ini Buktinya

Vape Tidak Sebabkan Naiknya Angka Perokok, Ini Buktinya
Ilustrasi orang sedang menggunakan rokok elektrik atau vape. Foto: Natalia Laurens/JPNN

jpnn.com - Para ahli dari University College London baru-baru ini merilis hasil studi yang menyebutkan bahwa penggunaan vape di kalangan muda di Inggris tidak berkaitan dengan peningkatan konsumsi rokok konvensional.

Studi yang bertajuk “Association of quarterly prevalence of e-cigarette use with ever regular smoking among young adults in England” tersebut menjadi respons terhadap anggapan bahwa produk alternatif menyasar pengguna usia muda, yang dikhawatirkan akan menjembatani mereka untuk menggunakan rokok konvensional.

Fakta yang terjadi adalah bahwa vape merupakan jembatan dari pengguna rokok konvensional menuju berhenti merokok.

Dengan menyasar kalangan muda berusia 16–24 tahun, studi ini menjadi yang pertama dengan pendekatan analisis time-series dari kurun waktu 2007 hingga 2018, untuk melihat dampak penggunaan vape terhadap peningkatan angka perokok.

Menurut ahli dari Department of Behavioural Science and Health, University College London Emma Beard, temuan tersebut penting mengingat adanya pandangan yang berbeda-beda di berbagai negara, terutama dari sisi kesehatan.

Pembuat kebijakan menerbitkan aturan yang termotivasi dari adanya pandangan bahwa vape dinilai menjadi gateway yang menghubungkan penggunanya ke rokok konvensional.

Namun, ada juga negara yang menggunakan vape sebagai bagian dari kebijakan berhenti merokok.

Seperti halnya Emma, Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (AKVINDO) Paido Siahaan, mengamini perbedaan pandangan yang juga terjadi di Indonesia. Hal tersebut disebabkan belum familiernya perokok maupun pemerintah dengan produk tembakau alternatif, serta manfaat yang diberikan produk untuk mengurangi risiko akibat merokok. Karenanya, diperlukan edukasi dan diseminasi kajian ilmiah.

“Banyak yang menganggap produk ini menjadi jembatan lahirnya perokok-perokok baru. Saya rasa pernyataan ini harus didasarkan pada argumentasi ilmiah, agar tidak menjadi sebuah opini tanpa dasar, karena selama 10 tahun saya di Industri ini, hampir tidak terdengar ada vapers yang menjadi perokok baru," kata Paido, ketika dihubungi, Minggu (3/4).
Ia mencontohkan studi kasus di Inggris, yang mana setelah kajian ilmiah dilakukan oleh banyak pihak, akhirnya vape dijadikan alat intervensi oleh pemerintah untuk menurunkan angka perokok di sana.

Bahkan, sambung dia, Inggris akan menjadi negara pertama di dunia yang meresepkan rokok elektrik atau vape berlisensi medis agar membantu mengurangi angka merokok di negaranya.

Studi dari University College London tersebut telah memperkaya penelitian-penelitian di berbagai negara yang menunjukkan bahwa rokok elektrik lebih rendah risiko dari rokok konvensional.

Setelah kajian ilmiah dilakukan oleh banyak pihak, akhirnya vape dijadikan alat intervensi untuk megurangi perokok di Inggris

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News