Kamis, 22 Agustus 2019 – 09:40 WIB

40 Perusahaan Tambang Langgar Aturan Lingkungan Hidup

Rabu, 05 Oktober 2011 – 04:05 WIB
40 Perusahaan Tambang Langgar Aturan Lingkungan Hidup - JPNN.COM

RUMBIA - Perusahaan tambang di Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara ternyata bandel memenuhi kewajibannya di bidang lingkungan. Buktinya, setelah memegang Surat Keputusan Kelayakan Lingkungan (SKKL), para pemilik modal itu tidak lagi melaporkan hasil pemantauan lingkungannya di Badan Lingkungan Hidup  hingga September ini.

Dari 45 perusahaan yang masuk dalam daftar Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bombana, ternyata hanya lima saja yang rutin melaporkan pemantauan lingkungannya. Sedangkan 40 lainnya dinilai bandel memenuhi kewajibannya, padahal mereka sudah mengantongi SKKL mulai 2007 sampai 2010 silam.

"Pasca SKKL keluar, seharusnya pihak perusahaan sudah wajib melaporkan atau membuat pemantauan lingkungannya. Bahkan aturannya minimal enam bulan sekali," kata Makmur, Kepala Seksi Amdal Badan Lingkungan Hidup, Bombana, Selasa (4/10).

Data di BLH Bombana menyebutkan, lima perusahaan yang sudah melaporkan pemantauan lingkungannya adalah PT. Tiran Indonesia. Perusahaan yang diberi konsesi emas seluas 947 hektar di  Kecamatan Rarowatu ini, tercatat baru sekali melaporkan pemantauan lingkungannya, sejak SKKLnya nomor 242 dikeluarkan 3 Agustus 2009 lalu.

PT Sultra Utama Nikel juga begitu. Perusahaan yang mengolah 2.344 hektar lahan emas di Rarowatu Utara, juga baru sekali melaporkan pemantauan lingkungannya, sejak SKKL nomor 17 dikeluarkan 8 Februari 2010 lalu.

PT Dinasty Thamier Dwijaya dan PT. Bahtera Sultra Mining juga satu kali melaporkan pemantauan lingkungannya. Padahal dua perusahaan emas ini, sudah mengantongi SKKL sejak 10 Oktober 2010 lalu. Sedangkan PT. Panca Logam Makmur,  merupakan salah satu perusahaan yang rutin melaporkan pemantauan lingkungannya. Sejak SKKL nya nomor 239 dikeluarkan   21 Juni 2010 lalu. Perusahaan ini sudah tiga kali melaporkan hasilnya di badan lingkungan hidup.

Sedangkan 40 perusahaan  yang belum pernah sama sekali melaporkan pemantauan lingkungannya meski sudah mengantongi SKKL hampir didominasi perusahaan yang diberi izin mengolah emas di Bombana. Diantaranya adalah, PT. Panca Logam Nusantara, PT. Anugrah Alam Buana Indonesia, PT. Sumber Alam Mega Karya, PT. Terang Guna Sentosa, PT. Karya Cipta Pratama, PT. Ganesha Delta Pratama, PT. Cahaya Gemilang Sentosa, PT Maju Mulia Agungtama, PT. Citra Nuansa Selaras, PT Cakrawala Bumi Asri Timur, PT. Talenta Sena Mulia, serta PT. Talenta Bina Persada.

Sedangkan perusahaan nikel yang belum pernah melaporkan pemantauan lingkungannya, juga tidak kalah banyak jumlahnya. Diantaranya, PT. Timah Eksplomin, PT. Trias Jaya Agung, PT. Tekonindo serta PT. Margo Karya Mandiri. Bahkan dua perusahaan besar seperti PT. Billy Indonesia dan PT Orextend sudah empat tahun tidak melaporkan pemantauan lingkungannya sejak SKKLnya nomor 484.d dan 484.e dikeluarkan 24 Agustus 2007 lalu. "Hasil pemantauan lingkungan ini wajib dilaporkan oleh perusahaan yang sudah di Amdal, baik yang sudah beroperasi atau belum," ungkap Asrul, staf Lingkungan Hidup lainnya. (nur)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar