Ada Anak Gagal PPDB SMPN Gegara Usia Lebih 15 Hari, Bu Hetifah Marah

Ada Anak Gagal PPDB SMPN Gegara Usia Lebih 15 Hari, Bu Hetifah Marah
Hetifah Sjafudian. Foto: Humas DPR

“Bisa saja sebelumnya ikut orangtua di luar negeri. Atau sakit dan saat sekolah sebelumnya pernah tinggal kelas,” imbuhnya.

Bahkan ada kasus karena orangtua tidak mampu secara ekonomi, sengaja menunda – nunda anaknya masuk SD karena belum punya uang. Setelah terkumpul uang, baru si anak di sekolahkan meski usia usia terlambat dibanding teman-temannya yang lain. Hingga ketika lulus SD, usianya melampaui kewajaran.

Tapi kondisi itu tak lantas menghilangkan hak anak untuk bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Karena itu, perlu ada perbaikan terhadap sistem yang ada saat ini. Hetifah mendorong adanya audit dan upaya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Untuk segera mengambil tindakan sebagai solusi agar tak ada korban dari sistem dan teknologi PPDB online ini.

“Harus ada audit. Sebab, terbukti sistem yang seharusnya membantu pelaksanaan PPDB menjadi lebih transparan dan akuntabilitas, justru berpotensi mendiskriminasi serta menghilangkan hak anak,” bebernya.

Diberitakan sebelumnya, Sumiyati warga Kelurahan Sungai Nangka, Balikpapan, Sabtu (6/7), pusing mengurus anaknya mendaftar PPDB tingkat SMP.

Namun putranya yang bernama Khoirun Juniansyah, terpaksa tidak bisa melanjutkan ke SMP negeri.

BACA JUGA: Anggota Dewan Heran, Mengapa Aturan PPDB Setiap Tahun Bikin Repot?

Alasan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Bukan masalah nilai atau zonasi tempat tinggal. Melainkan usia yang melewati batas maksimal.

Nasib Khoirun Juniansyah yang ditolak masuk SMP negeri lantaran kelebihan usia membuat geram wakil Kaltim di Senayan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News