Derita Sopir Taksi Konvensional Ini Bikin Sedih Banget

Derita Sopir Taksi Konvensional Ini Bikin Sedih Banget
Seorang sopir taksi tengah menanti penumpang di depan hotel Santika, Kota Mataram beberapa hari lalu. Foto: Lalu Mohammad/Lombok Post/JPNN.com

“Sekarang misalnya kita dapat 150 ribu, berarti Rp 50 ribu buat isi bensin, Rp 100 ribu bagi dua dengan perusahaan. Itu artinya sudah nambah hutang Rp 150 ribu, karena sehari minimal harus setor Rp 200 ribu,” cetusnya.

Bahkan tak jarang Majid mengaku pulang dengan kantong kosong. Dengan kata lain, tidak ada satu penumpang pun yang didapat dari pagi hingga tiba waktu pulang ke rumah lagi. “Utang saya di perusahaan ada sampai 80 juta,” bebernya.

Sekadar diketahui, para sopir taksi punya kewajiban bekerja selama enam tahun. Jika dalam waktu itu mereka bisa rutin menyetor Rp 200 ribu setiap hari, maka pada tahun ke-5, mobil taksi yang mereka gunakan untuk bekerja akan jadi hak miliknya.

“Sedangkan satu tahun sisanya (tahun ke enam) akan jadi masa pengabdian,” terangnya.

Tapi harapan bisa memiliki mobil itu makin jauh. Sejak sekitar tiga tahun silam Majid kesulitan mencapai target bisa setor Rp 200 ribu perhari. Padahal ia sudah bekerja untuk tahun ke-5.

“Kayaknya makin sulit bisa punya mobil ini,” ujarnya dengan nada pasrah.

Jika sekarang saja sudah sangat sulit untuk dapat penumpang, apalagi satu, dua, sampai tahun-tahun berikutnya. Mimpi punya mobil dan rumah sendiri pun buyar begitu saja.

“ Loh sampai siang ini saya cuma dapat segini,” bebernya sembari menunjukan uang selembar Rp 50 ribu dan Rp 10 ribu.

Para sopir taksi konvensional yang sebelumnya bisa mendapatkan Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu per hari, kini jauh terjun di bawah harapan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News