Derita Sopir Taksi Konvensional Ini Bikin Sedih Banget

Derita Sopir Taksi Konvensional Ini Bikin Sedih Banget
Seorang sopir taksi tengah menanti penumpang di depan hotel Santika, Kota Mataram beberapa hari lalu. Foto: Lalu Mohammad/Lombok Post/JPNN.com

Semua ini gara-gara bisnis transportasi online itu. Para sopir taksi konvensional yang sebelumnya bisa mendapatkan Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu per hari, kini jauh terjun di bawah harapan.

“Ini gara-gara transportasi online itu,” cetusnya dengan ekspresi dongkol.

Di perusahaan taksi tempat Yudi bekerja, ia minimal harus menyetor Rp 200 ribu. Jika kurang akan jadi utang. Angka utang akan terus terakumulasi setiap kali ia gagal mencapai target ini.

“Anjloknya pendapatan para sopir taksi terjadi sejak 2014. Kondisi semakin sulit dengan hadirnya (transportasi) online itu,” ungkapnya.

Tak hanya Yudi yang merasakan beratnya persaingan transportasi saat ini. Abdul Majid juga menceritakan kisah serupa.

Bagaimana para pelaku bisnis transportasi online dengan sangat superior merampas pasar mereka. “Kita seperti melawan siluman,” cetus Majid.

Dengan plat mobil biasa dan hanya bermodal pesanan secara online, mereka dengan mudah mendapat penumpang.

Sedangkan para sopir taksi harus susah payah dulu bertanya pada setiap orang yang lewat. Apakah mereka mau naik taksi atau hanya sekadar lewat.

Para sopir taksi konvensional yang sebelumnya bisa mendapatkan Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu per hari, kini jauh terjun di bawah harapan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News