Rabu, 14 November 2018 – 16:13 WIB

Eniya Listiani, Ibu Tiga Anak yang Penelitian Langkanya Berbuah Habibie Award 2010

Jumat, 03 Desember 2010 – 07:37 WIB
Eniya Listiani, Ibu Tiga Anak yang Penelitian Langkanya Berbuah Habibie Award 2010 - JPNN.COM

Eniya Listiani Dewi berpose bersama BJ Habibie dan Kepala BPPT Marzan A. Iskandar usai penganugerahan Habibie Award, Selasa (30/11). Foto : Sofyan Hendra/Jawa Pos

Sepanjang sejarah pemberian Habibie Award sejak 1999, perempuan ini adalah penerima termuda penghargaan bergengsi itu. Dia adalah Dr Eng Eniya Listiani Dewi. Karyanya pun tergolong langka, tentang fuel cell (sel bahan bakar) berbasis hidrogen untuk sumber energi baru yang ramah lingkungan.

=====================
SOFYAN HENDRA, Jakarta
=====================

DI Puri Ratna, Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Eniya tak henti menebar senyum. Sejumlah kolega memberikan selamat. Para kerabat meminta dia berfoto bersama. Pose bersama mantan Presiden B.J. Habibie serta Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Marzan A. Iskandar melengkapi kegembiraan Eniya sore itu (30/11).

Dia memang patut berbangga. Ibu kelahiran Magelang, 14 Juni 1974, tersebut baru saja menerima anugerah Habibie Award 2010 untuk bidang ilmu rekayasa. Itu sekaligus menjadikan dia sebagai peraih Habibie Award termuda sejak anugerah tahunan tersebut dihelat pada 1999.

Keesokan harinya (1/12), Jawa Pos menemui Eniya di tempat kerjanya, Kantor BPPT. "Itu menggembirakan sekali. Saya tak menyangka. Apalagi, penghargaan itu dulu diberikan kepada banyak profesor," ungkap Eniya.

Tim juri Habibie Award memuji inovasi Eniya tentang fuel cell berbasis hidrogen untuk sumber energi baru yang ramah lingkungan. Dengan tangkas, Eniya mempresentasikan temuan-temuannya di depan undangan Habibie Award.

Riset Eniya dimulai dengan "ketidaksengajaan" eksperimen yang akhirnya malah menemukan katalis baru untuk sel bahan bakar. "Saat eksperimen, saya sering meninggalkannya waktu makan siang. Saya pikir tidak masalah. Ketika saya melihat hasil eksperimen setelah saya tinggal, kok jadinya berbeda. Ternyata, perbedaan itu malah menjadi inovasi," tutur istri Wahyu Widada tersebut.

Katalis baru temuan Eniya itu telah membuat terobosan zinc-air fuel cell (ZAFC). Yakni, suatu generator penghasil listrik berbahan bakar logam dan oksigen.

Hasil risetnya dipublikasikan di delapan jurnal internasional dalam waktu tiga tahun. Temuan tersebut lantas diakui dunia. Eniya mendapatkan penghargaan Mizuno Award dan Koukenkai Awards dari Waseda University dan Polymer Society Japan pada 2003.

Teknologi sel bahan bakar merupakan sumber energi alternatif penghasil listrik yang ramah lingkungan. Cara kerjanya, mereaksikan gas hidrogen dengan oksigen berdasar prinsip elektrokimia. "Hasilnya adalah listrik, panas, dan air murni. Tanpa suara, tanpa emisi, layaknya baterai atau aki," tutur ibu Ibrahim Muhammad, Nashita Saaliha, dan Nashira Saaliha tersebut.
Fuel cell memang tidak meninggalkan emisi. Hasil buangnya hanya berupa air murni. Prinsip fuel cell mirip dengan baterai atau aki. Bedanya, energi baterai dan aki bisa "habis", sedangkan energi fuel cell tidak akan habis asal diisi dengan bahan bakar. Sebagai bahan bakar, diisikan hidrogen, alkohol (metanol, etanol), dan hidrokarbon lain.

Penelitiannya di bidang fuel cell telah dipublikasikan di jurnal dan makalah internasional serta dalam negeri. Jumlahnya lebih dari 160 judul. Dia juga telah mematenkan temuan tersebut di enam hak kekayaan intelektual. Empat paten miliknya juga masih diproses.

Karya teranyarnya adalah ThamriON, yang baru saja mendapatkan penghargaan Inovasi Paten dari Ditjen HKI 2010. ThamriON merupakan membran sel bahan bakar dari plastik yang direaksikan dengan asam sulfat. Karena telah direaksikan, plastik bisa menghantarkan listrik.

Nama paten ThamriON punya sejarah unik. "Saya bekerja di Jalan M.H. Thamrin (Kantor BPPT, Red). Jadi, nama itu saya ambil. Kalau ON berasal dari kata ion. Sebab, plastik bisa menghasilkan ion," terang dia.

Eniya mengembangkan sel bahan bakar dengan material lokal hingga 80 persen. Karena itu, biaya untuk menghasilkan produk tersebut lebih murah. Upaya Eniya itu mendapatkan anugerah PII-Engineering Award pada 2006. Salah satu pengembangan sel bahan bakarnya dibuat di BPPT dalam berbagai ukuran daya, mulai 5 hingga 1.000 watt.

Dengan proses manufaktur secara mandiri, sel tersebut bisa menyalakan perangkat elektronik, seperti televisi, laptop, lampu, dan radio. Ada pula yang dikembangkan untuk motor, yakni fuel cell berkapasitas 500 watt. Untuk lebih menghemat biaya produksi energi terbarukan, Eniya pun mengembangkan gas hidrogen dari limbah biomassa.

Dia punya impian bahwa setiap rumah bisa memiliki energi mandiri dari fuel cell. Selain lebih ramah lingkungan karena menggunakan energi terbarukan, fuel cell menghasilkan listrik yang lebih stabil. "Tidak akan ada lagi cerita pemadaman listrik," ungkap Eniya.

Namun, dia mengakui bahwa mengembangkan energi terbarukan bukan persoalan gampang. Apalagi, selama ini memang acap terjadi kesenjangan antara temuan teknologi dan produksi masal perusahaan. "Ya, memang selama ini masih ada gap," ucap dia. Apalagi, tambah dia, penggunaan energi seperti minyak bumi dan batu bara masih mendominasi.

Padahal, di negara-negara seperti Jepang dan kawasan Eropa, teknologi fuel cell terus dikembangkan. Di Jepang, kota hidrogen telah lama dirintis di Fukuoka. Meski demikian, teknologi fuel cell bukan berarti tanpa penerapan terkini. Eniya mengatakan, saat ini sejumlah menara telekomunikasi (BTS) sudah menggunakan teknologi fuel cell. Sebab, BTS harus menggunakan listrik berarus DC (searah).

"Listrik PLN kan AC (arus dua arah). Karena itu, harus digunakan inverter yang harganya malah lebih mahal," lanjutnya. Dia menambahkan, setidaknya teknologi fuel cell bisa digunakan sebagai back up energi konvensional.

Lantas, mengapa tertarik mengembangkan fuel cell" Eniya menuturkan tertarik menggeluti hal yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan sejak duduk di bangku SMA. "Saya suka dengan kegiatan daur ulang. Membuat kompos dari sampah, misalnya," ucap lulusan SMAN 1 Magelang pada 1992 tersebut.

Minat terhadap fuel cell lantas muncul setelah dia menempuh pendidikan program sarjana di Waseda University, Jepang. Dia mendapatkan beasiswa program sarjana science and technology advance industrial development (STAID) Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek). Saat Habibie masih menjadi Menristek, beasiswa tersebut sangat bergengsi dan menjadi incaran banyak siswa SMA jurusan ilmu-ilmu eksakta.

Gelar S-1 dia raih pada 1998. Dia melanjutkan pendidikan ke jenjang master pada 2000 dengan beasiswa Iwaki Glass Industry. Selama program doktor, Eniya mendapatkan fellowship sebagai special researcher of young scientist for the promotion of science dari Japan Science Technology. "Itu fellowship terunggul. Dengan bimbingan profesor saya, saya makin tertarik untuk mengembangkan fuel cell," tegas dia. (*)

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar