Kamis, 22 November 2018 – 18:02 WIB

Jafar Hafsah, Menulis dengan Semangat Jihad Intelektual

Selasa, 29 Mei 2012 – 04:02 WIB
Jafar Hafsah, Menulis dengan Semangat Jihad Intelektual - JPNN.COM

JAKARTA - Sibuk sebagai politisi, tak melupakan kewajibannya sebagai salah seorang intelektual. Baginya, menulis adalah tanggung jawab intelektual ilmiah sekaligus amal dalam melakukan jihad.

Itulah pribadi Jafar Hafsah, pria  bergelar doktor yang juga ketua Fraksi Partai Demokrat di MPR. Ketua DPP Partai Demokrat ini berusaha berbagi pengalaman untuk menularkan kebiasaan menulis terutama bagi generasi muda yang menjadi pewaris masa depan.

"Saya percaya membuat tulisan yang bermanfaat merupakan kewajiban sosial bagi orang-orang yang mendapatkan nikmat mengecam pendidikan formal terutama yang telah mengecam pendidikan sampai ke jenjang Doktoral. Menulis menjadi tanggung jawab intelektual amal ilmiah dan jihad intelektual," kata Jafar di sela-sela peluncuran Gerakan Indonesia Membaca dan Menulis di Gedung KONI DKI Jakarta, Minggu (27/5) malam.

Di usianya yang sudah beranjak 63 tahun, mantan Direktur Jenderal Tanaman Pangan ini telah menghasilkan karya dengan 24 judul buku. Karya-karyanya tidak saja membahas masalah politik, tapi juga menyentuh pada bidang pertanian sebagai disiplin ilmunya, buku yang memberikan inspirasi dan puisi.

Judul buku yang sudah diterbitkan di antaranya, Agribisnis Gula, Bercocok Tanam Ubi Kayu, Membangun Pertanian Adil Sejahtera dan Demokratis, Manajemen Penyuluhan di Era Otonomi Daerah, Pengentasan Kemiskinan, Wujudkan Indonesia Berdaulat Pangan, Politik Untuk Kesejahtareaan Rakyat, dan Cara Sukses Menulis.

Jafar menuturkan, minat baca dan menulis perlu ditumbuhkembangkan. Karena dengan membaca bisa memberikan ilmu yang bermanfaat.  "Saya rasa banyak buku-buku yang sudah dikeluarkan dari orang-orang hebat. Tentu dengan membaca kita juga bisa mendapatkan manfaat ilmu. Disisi lain dengan menulis kita juga bisa menjadi kreatif," katanya.

Pria kelahiran  Soppeng, 17 February 1949 ini menjelaskan bahwa membaca dan menulis ibarat dua sisi mata uang yang memiliki satu kesatuan. Penulis yang hebat adalah pembaca yang baik. Meskipun membaca dan menulis berdiri sendiri-sendiri, namun hakikat dan kesejatiannya, membaca dan menulis merupakan satu kesatuan yang saling menggenapkan, menguatkan, meneguhkan memberi makna dan nilai satu sama lainnya.

"Bagi seorang penulis, membaca adalah modal utama. Kebiasaan membaca akan memudahkan dalam menemukan ide atau gagasan. Membaca dapat membuat otak dipenuhi berbagai pengetahuan yang bisa dijadikan modal utama dalam mengungkapkan kata dan kalimat dalam tulisan," katanya.

Jafar mengaku membaca dan menulis mulai digemari saat duduk dibangku sekolah SMP. Semenjak mengemban pendidikan, dirinya selau menyempatkan untuk membaca. Begitu juga menulis, walau sibuk dengan segudang aktivitasnya sebagai politisi, ia masih sempat mengeluarkan pemikirannya yang dituangkan dalam sebuah buku.

"Setelah bertahun-tahun menulis buku, saya dapat membagikan beberapa pengalaman untuk menularkan kebiasaan menulis terutama bagi generasi muda yang menjadi pewaris masa depan. Sebagai langkah awal tentunya mengawali dengan doa dan niat baik," katanya. (awa/jpnn)
SHARES
TAGS   jafar hafsah
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar