Sabtu, 25 Mei 2019 – 06:21 WIB

Ketua Majelis Syuro PKS Anak Panglima DI/TII

Kamis, 05 Mei 2011 – 21:21 WIB
Ketua Majelis Syuro PKS Anak Panglima DI/TII - JPNN.COM

JAKARTA - Mantan Menteri Peningkatan Produksi Negara Islam Indonesia (NII), Imam Supriyanto, mengungkapkan bahwa orang tua dari Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hilmi Aminuddin, adalah salah seorang dari Panglima Militer DI/TII Kartosuwiryo.

"Memang betul, bahwa Pak Danu Muhammad Hasan, orang tua dari Hilmi Aminudin yang sekarang menjadi Ketua Majelis Syuro adalah Panglima Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Kartosuwiryo," kata Imam Supriyanto, dalam acara diskusi bertema "Parpol Bicara Maraknya Radikalisme", di press room DPR, Senayan Jakarta, Kamis (5/5).

Sebagai Panglima DI/TII Kartosuwiryo, lanjut Imam, Danu Muhammad Hasan bertugas di daerah operasinya yang meliputi kawasan Pantura seperti Cirebon, Indramayu dan sekitarnya. Yang menarik lagi, lanjut Imam, masyarakat di sekitar pondok Al Zaytun sangat kenal dengan Danu Muhammad Hasan.

"Sampai pernah saya temukan orang angon (menggembalakan) kambing kenal tokoh DI/TII Danu Muhammad Hasan itu karena kawasan sekitar Al Zaytun juga merupakan daerah operasi sehingga masih ada di sana bekas camat, lurah dari DI TII," ujar Imam Supriyanto.

Di saat terjadinya penangkapan terhadap Komando Jihad, sebut Imam, salah seorang yang ditangkap adalah Danu Muhammad Hasan. Namun dalam waktu bersamaan, Danu mengirim Hilmi Aminuddin ke Al Azhar University.

"Saya dapat cerita dari senior saya, sudah almarhum, ketika Danu Muhammad Hasan ditangkap, supaya anaknya tidak terlibat, waktu itu Hilmi Aminuddin dikirim tugas belajar ke Mesir selama dia menjadi mahasiswa Al Azhar University dia bersentuhan dengan gerakan Ikhwanul Muslimin," ungkapnya.

Begitu Hilmi selesai kuliah, gerakan Ichwanul Muslimin ini dibawa ke Indonesia. "Saya bisa cerita begini karena saya dulu sebelum ikut NII ikut Usroh (gerakan bawah tanah). Jadi Ikhwanul Muslimin itu mengadakan gerakan bawah tanah, semacam usroh-usroh. Namanya tarbiyah jadi dia merekrut pelajar dan mahasiswa waktu itu," kata Imam.

Setelah gerakan Ikhwanul Muslimin ini mempunyai kekuatan, lanjut Imam, maka mereka membangun pola bergerak dengan partai politik dan parlemen. "Persis sama seperti yang dilakukan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Mereka gerakannya di parlemen dengan harapan gerakan Ikhwanul Muslimin ini teruji di satu negara," imbuh Imam.

Era reformasi pun digunakan sebagai momentum untuk membentuk partai dengan nama Partai Keadilan. "Setelah Partai Keadilan terbentuk, pada waktu itulah saya pertama kali bertemu dengan Nur Mahmudi (mantan Presiden PK) dan saya diskusi lama dengan beliau," ujar Imam.

Meski demikian Imam Supriyanto tetap memuji Hilmi Aminuddin dan kawan-kawannya karena memilih berjuang menggunakan partai dibanding gerakan yang dilakukan oleh Panji Gumilang. "Keputusan untuk membentuk partai itu jauh lebih gentelmen ketimbang apa yang dilakukan oleh Panji Gumilang yang melakukan gerakan penyusupan ke partai politik," tukasnya. (fas/jpnn)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar