Minggu, 18 November 2018 – 00:10 WIB

Penjahat Perang Terakhir Serbia Tertangkap

Kamis, 21 Juli 2011 – 14:41 WIB
Penjahat Perang Terakhir Serbia Tertangkap - JPNN.COM

BEOGRAD – Petualangan dan kehidupan bebas di luar yang dijalani penjahat perang Serbia Goran Hadzic, 52, akhirnya berakhir. Hal itu terjadi setelah pemerintah Serbia menambah panjang prestasinya dalam meringkus penjahat perang. Presiden Boris Tadic mengumumkan keberhasilan pemerintahannya dalam menangkap Goran Hadzic kemarin (20/7).

Hadzic adalah mantan presiden Republik Serbia Krajina sekaligus jenderal Serbia di Kroasia yang menjadi buron sejak 2004.  Dia tercatat sebagai penjahat perang terakhir Serbia yang tertangkap.

’’Pagi ini, pukul 08.24 (sekitar pukul 13.24 WIB), kami berhasil menangkap Goran Hadzic. Lewat penangkapan itu, Serbia mengakhiri episode tersulit dalam hubungannya dengan pengadilan (Pengadilan Kriminal Internasional untuk Yugoslavia atau ICTY),’’ kata Tadic dalam jumpa pers di Kota Beograd kemarin.

Sebelumnya, Serbia telah menangkap beberapa penjahat perang lain. Termasuk mantan Presiden Yugoslavia dan eks Presiden Serbia Slobodan Milosevic yang juga menjadi buron atas kasus yang sama dengan Hadzic. Bersama dua penjahat perang lain, Radovan Karadzic dan Ratko Mladic, Milosevic merupakan jagal sekaligus dalang pembantaian ribuan muslim di Bosnia.

Beberapa jam setelah ditangkap, Hadzic pun langsung dibawa ke pengadilan khusus bagi penjahat perang. Pria yang terlihat kemarin terlihat pucat itu dijerat dengan 14 pasal dakwaan.

Dia dituding melakukan kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan saat menjabat sebagai orang penting Serbia Kroasia. Bersama Milosevic, dia dianggap bertanggung jawab terhadap deportasi puluhan ribu etnis Kroasia dan pembunuhan ratusan orang di antaranya pada kurun waktu 1991-1993.

Atas perintah Hadzic itu pula, pasukan Serbia Kroasia menyandera sedikitnya 250 warga non-Serbia. Sebagian besar diantaranya etnis Kroasia, dari sebuah rumah sakit di Kota Vukovar. Aksi itu dilakukan setelah kota tersebut jatuh ke tangan tentara Serbia.

Sebelumnya, kedua belah pihak memperebutkan kota pelabuhan sungai terbesar di Kroasia tersebut selama sekitar tiga bulan. Pada November 1991, pasukan Hadzic membantai dan menghabisi para sandera pria dan seorang perempuan.

Pertempuran di Vukovar adalah episode paling buruk dalam Perang Kemerdekaan Kroasia yang berlangsung pada 1991-1995. Kerusakan akibat kontak senjata selama tiga bulan itu, konon, lebih buruk dibandingkan dampak Perang Dunia II di Eropa. Pembunuhan sedikitnya 250 warga Kroasia di kota tersebut mengarah pada genosida (pembantaian masal). Sebagai pemimpin, Hadzic pun harus mempertanggungjawabkan aksi pasukannya.

Berita tertangkapnya Hadzic jelas menuai reaksi positif dari Uni Eropa (UE). Apalagi, organisasi negara-negara di Benua Biru tersebut beberapa waktu terakhir meningkatkan tekanannya kepada Serbia untuk menangkap para penjahat perang yang diburu ICTY. Meski begitu, Tadic membantah bahwa penangkapan Hadzic itu adalah trik Serbia agar bisa segera bergabung ke UE.

Menurut dia, selama ini pemerintahannya berusaha keras menangkap Tadic demi rekonsiliasi negara-negara Balkan. ’’Semua itu kami lakukan atas alasan moral dan kewajiban. Kami sadar bahwa rekonsiliasi negara-negara bekas Yugoslavia hanya akan terjadi setelah seluruh buron perang tertangkap. Karena itu, kami mengupayakannya dengan maksimal,’’ urai pemimpin 53 tahun tersebut.

Berkat kerja keras dan kejelian intelijen Serbia, pemerintahan Tadic suskes menangkap Hadzic di wilayah pegunungan Fruska Gora, dekat Kota Novi Sad, selatan Serbia. ICTY tak kalah antusias mendengar kabar penangkapan Hadzic. ’’Ini menandai akhir dari perburuan kami. Hari ini (kemarin) genap sudah 161 buron (ICTY) tertangkap,’’ tandas Jubir ICTY Frederick Swinnen dalam jumpa pers di Kota Den Haag, Belanda.

Dalam waktu tiga hari ke depan, pemerintah Serbia akan mengurus ekstradisi Hadzic ke Belanda. Paling lambat, dalam waktu sepekan, Hadzic akan diterbangkan ke Den Haag untuk menjalani persidangan. (AFP/AP/hep/dwi)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar