Renegosiasi CAFTA Dinilai Tidak Tepat

Renegosiasi CAFTA Dinilai Tidak Tepat
Renegosiasi CAFTA Dinilai Tidak Tepat
JAKARTA - Munculnya desakan untuk melakukan renegosiasi kesepakatan perdagangan bebas ASEAN-China (CAFTA) dinilai tidak tepat. Sebab, CAFTA bukanlah persetujuan bilateral, melainkan persetujuan regional dengan ASEAN. Oleh karena itu, desakan untuk melakukan renegosiasi dinilai tidak memungkinkan terjadi.

Menurut Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Gusmardi Bustami, renegosiasi bukanlah merupakan kata yang tepat. ’’Renegosiasi bukanlah kata yang tepat untuk masalah ini. Bila terjadi defisit, yang seharusnya dilakukan adalah mencari masalah pokoknya lebih dulu, apakah ada masalah di salah satu pihak. Dalam CAFTA juga terdapat butir kesepakatan agar negara yang surplus membantu negara yang minus,’’ tambahnya.

Gusmardi menilai, CAFTA adalah kerangka FTA yang paling besar di dunia, dengan meliputi populasi penduduk keseluruhan sebesar 1,9 miliar orang, serta Pendapatan Domestik Bruto (GDP) sebesar USD 7 triliun, sehingga sangat menjanjikan. Menurut Gusmardi, yang perlu dilakukan adalah perbaikan dalam implementasi. ’’Ini merupakan persoalan dalam implementasi dan bukan kesepakatan. Lagi pula CAFTA bukanlah persetujuan bilateral, melainkan regional dengan ASEAN, sehingga tidak bisa Indonesia dengan sepihak melakukan renegosiasi,’’ ungkapnya.

Gusmardi mengatakan, yang dilakukan saat ini adalah mencari cara agar perdagangan Indonesia-China dalam kerangka CAFTA dapat berimbang. Misalnya dengan mendorong China mempromosikan produk Indonesia, menambah kredit ekspor, atau menambah daya saing produk Indonesia.

JAKARTA - Munculnya desakan untuk melakukan renegosiasi kesepakatan perdagangan bebas ASEAN-China (CAFTA) dinilai tidak tepat. Sebab, CAFTA bukanlah

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News