Rolling Stones

Dhimam Abror Djuraid

Rolling Stones
Ali Mochtar Ngabalin. Foto: M Fathra Nazrul Islam/dok.JPNN

jpnn.com - King of Lip Service gelar untuk Jokowi, King of Silent gelar untuk Ma’ruf Amin, dan Queen of Ghosting gelar untuk Puan Maharani. Yang terbaru ada gelar King of Rolling Stones. Untuk siapa?

Gelar terbaru itu dianugerahkan kepada Ali Mochtar Ngabalin yang mendapat julukan ‘’Raja Penjilat’’. Gelar untuk Jokowi, Ma’ruf Amin, dan Puan diberikan oleh para mahasiswa.

Gelar untuk Ngabalin muncul di media sosial, bersamaan dengan munculnya mural bergambar seorang pria beserban, mirip Ngabalin, dengan mata tertutup dengan narasi ‘’504 Error’’.

Mural ini kemudian dilengkapi dengan gambar beberapa ekor kambing. Mungkin menyindir ucapan seorang pejabat pemerintah yang mengatakan bahwa mereka yang suka mengkritik pemerintah adalah warga negara kelas kambing.

Melihat postur orang beserban dan gambar kambing, warganet lantas mengasosiasikannya dengan Ali Mochtar Ngabalin.

Dalam tinjauan semiotika, mural bergambar pria beserban dengan mata tertutup, seperti iklan ‘’Wanted’’ itu, adalah penanda atau signifier. Ketika gambar itu dimaksudkan untuk merujuk pada seseorang—misalnya Ngabalin, atau seorang ustaz yang biasa memakai serban--maka dia disebut sebagai petanda atau signified.

Publik hanya bisa mengira-ngira siapa lelaki beserban itu. Asosiasi terhadap Ngabalin pun lebih bersifat spekulatif. Sampai sekarang belum diketahui siapa pembuat mural itu. Polisi sedang memburunya. Sama dengan mural bergambar mirip Jokowi dengan narasi ‘’404 Not Found’’, mural pria beserban memunculkan multitafsir di kalangan publik.

Tidak ada yang tahu persis makna mural itu, atau siapa yang menjadi model mural itu, kecuali sang pelukis sendiri. Dialah sang author, pencipta karya itu. Dialah yang tahu persis maknanya. Publik hanya bisa melakukan tafsir atas karyanya.

Untuk mengapresiasi kebaikan Ngabalin, sebaiknya gelar Raja Penjilat dibuat lebih keren, The King of Rolling Stones.