Tradisi Merawat Mayat di Toraja, Baju Diganti, Kopi Ditaruh

Tradisi Merawat Mayat di Toraja, Baju Diganti, Kopi Ditaruh
Warga membersihkan jenazah saat ritual adat Ma'nene di Lo'komata, Lembang Tonga Riu, Kecamatan Sesean Suloara Toraja Utara,(12/9/2017). FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

jpnn.com - Tiap kampung di Toraja Utara memiliki aturan Ma’nene atau merawat mayat berbeda. Untuk membuat satu liang di batu makam, warga biasanya butuh tiga sampai enam kerbau.

DEBORA DANISA SITANGGANG, Toraja Utara

SEONGGOK batu raksasa itu berdiri megah di sudut puncak bukit. Sisi-sisinya sudah dilubangi dengan bentuk persegi dan ditutupi pintu dari kayu mahoni.

Coraknya beragam. Khas Toraja. Jumlahnya mencapai seratus lebih. Di dalam lubang tersebut ada mayat. Dan sebagian besar sudah berjajar maupun bertumpuk dalam satu liang.

Itulah batu Lo’ko’ Mata, batu makam yang ada di wilayah Lembang (Desa) Tonga Riu, Sesan Suloara, Toraja Utara.

Lo’ko’ Mata merupakan sebuah batu yang paling besar di antara makam-makam batu lain di bukit sebelah utara Kota Rantepao tersebut.

Selama perjalanan dari Rantepao, ibu kota Toraja Utara, ke Tonga Riu, Jawa Pos melihat pula batu-batu besar lain dengan makam di dalamnya.

Namun, tidak ada yang sebesar Lo’ko’ Mata yang kini sudah dilubangi hingga lebih dari seratus liang. Ukurannya kurang lebih sama seperti rumah bertingkat tiga.

Dalam tradisi merawat mayat di Toraja, keluarga juga memasukkan barang atau makanan kesukaan mendiang semasa hidup, kebanyakan sirih dan kopi, ke dalam liang.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News