Agar Aman, Penjual dan Pembeli Dibatasi Besi Teralis

Agar Aman, Penjual dan Pembeli Dibatasi Besi Teralis
RAWAN - Salah satu sudut kota Port Moresby, Papua Nugini, yang berpenduduk hanya 430.000 jiwa namun dengan tingkat kriminalitas dikenal tinggi. Foto: Naufal Widi AR/Jawa Pos.
Pemandangan di Port Moresby sebagai sebuah ibu kota negara jauh berbeda jika dibandingan dengan Jakarta. Dengan jumlah penduduk hanya sekitar 430.000 jiwa (PNG berpenduduk 6,3 juta jiwa berdasar sensus 2009), kota itu tidaklah padat. Bangunan tinggi yang menjulang atau gedung pencakar langit bisa dihitung dengan jari.

Setidaknya itu yang terekam Jawa Pos selama 15 menit menikmati perjalanan dari kawasan Jacksons Parade (lokasi dekat Bandara Jackson) menuju ke tempat penginapan, yakni Hotel Crowne, di kawasan Hunter & Douglas Streets. Di tempat itulah Presiden SBY dan rombongan melakukan sejumlah kegiatan kenegaraan.

Pemukiman penduduk sore itu juga tampak lengang. Bangunan rumah rata-rata tidak mewah. Kebanyakan beratap seng. Namun, ada yang menarik. Hampir semua memiliki pagar yang tinggi. Rata-rata dua meter.

"Pagar-pagar yang tinggi itu merupakan pagar pengaman bagi warga yang bermukim dalam satu kompoun (kompleks)," kata Abdul Hakim, staf penerangan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Port Moresby. Tujuannya jelas, sebagai pengaman dari aksi rasscall (sebutan untuk penjahat).

Jika datang ke Port Moresby, ibukota Papua Nugini (PNG), harus ekstra hati-hati. Ancaman aksi kriminalitas tak mengenal waktu. Berikut catatan wartawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News