Lelap Meski Tidur Sebentar? Bisa jadi Anda Mengidap SSS

Lelap Meski Tidur Sebentar? Bisa jadi Anda Mengidap SSS
Ilustrasi Tidur. FOTO : pixabay

jpnn.com - Umumnya, orang merasa segar setelah tidur cukup selama 7-9 jam. Ada beberapa orang yang hanya butuh tidur kurang dari 6 jam. Kondisi itu dinamakan short sleeper syndrome.

---

ADA untungnya mengalami short sleeper syndrome (SSS). Dengan jam tidur singkat, mereka bisa bangun dengan segar. Juga, tak mengantuk ketika beraktivitas. Sebab, orang dengan SSS mampu terlelap hingga stadium III dalam tahapan tidur.

Dokter Wardah Rahmatul Islamiyah SpS menjelaskan, terdapat empat tahapan tidur. Stadium I, II, III, dan REM (rapid eye movement). Pada stadium I, mata sudah terpejam, tetapi mudah dibangunkan. ''Kalau orang Jawa bilang, melek-melek ayam. Dengar suara dikit, bangun lagi,'' jelas spesialis saraf dari RSUD dr Soetomo Surabaya tersebut.

Pada stadium kedua, detak jantung menurun. Tanda bahwa tubuh siap untuk tidur lebih dalam. ''Sudah mulai susah dibangunkan,'' kata Wardah.

Nah, masuk ke stadium ketiga, tidur dalam dan mulai sulit dibangunkan. Jika dibangunkan paksa, biasanya akan terasa linglung sesaat. ''Tidur dikatakan nyenyak kalau mencapai stadium III. Regenerasi tubuh dan pembentukan sel terjadi pada saat itu,'' ungkapnya.

Lalu, yang terakhir adalah fase REM (rapid eye movement). Selama tahap tersebut, seseorang bermimpi intens karena otak lebih aktif. ''Mata bergerak-gerak sambil terpejam,'' ujarnya.

Seorang pengidap SSS dengan mudah mencapai stadium III meski jam tidurnya pendek. Umumnya, setiap orang perlu waktu 50-60 menit untuk mencapai stadium III. ''Dia tidak merasa capek karena ya memang jam tidurnya hanya sebanyak itu,'' tegasnya.

Pada stadium kedua, detak jantung menurun. Tanda bahwa tubuh siap untuk tidur lebih dalam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News