Kamis, 22 Agustus 2019 – 17:04 WIB

PDIP Ingin Satukan Parpol Sempalan

Minggu, 04 Juli 2010 – 09:57 WIB
PDIP Ingin Satukan Parpol Sempalan - JPNN.COM

JAKARTA -- Menghadapi Pemilu 2014, PDIP punya mimpi besar. Partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu berusaha merangkul semua partai sempalan untuk kembali di bawah satu payung, yakni banteng moncong putih. "Kami memang ingin mengumpulkan balung pisah (saudara yang terpisah-pisah, Red) ," kata Sekjen DPP PDIP Tjahjo Kumolo saat ditemui di kediamannya, Jalan Potlot, Duren Tiga, Jakarta Selatan, kemarin (3/6).

Kelompok parpol banteng pecahan PDIP itu terutama PNI Marhaenis yang dipimpin Sukmawati, Partai Pelopor yang didirikan Rachamawati Soekarnoputri, dan Partai Nasional Benteng Kerakyatan (PNBK) yang dinakhodai Eros Djarot.

Tjahjo menuturkan, jajaran PDIP kini terus membangun komunikasi politik yang intensif. Bukan hanya komunikasi dengan para senior partai atau anggota partai yang sudah tidak aktif, melainkan juga dengan tokoh-tokoh yang telanjur pindah atau membentuk partai sendiri. Harapan utama, tentu saja semua bisa dikonsolidasikan untuk bersama-sama dalam satu barisan menghadapi pemilu mendatang.

"Syukur-syukur semua banteng nasionalis dan Pancasila bisa kembali ke kandang bersama untuk membangun bangsa ini sebagaimana keinginan Bung Karno," ujar Tjahjo yang juga Ketua Fraksi PDIP di DPR, lantas tersenyum.

Konsep konsolidasi yang ditawarkan, jelas Tjahjo, memang belum final. Apakah fusi, konfederasi, atau semua parpol sempalan itu melebur ke PDIP. "Sekarang membangun visi yang sama dulu. Kami juga tidak mau terjebak pada klaim. Ini hak setiap parpol untuk bersikap secara mandiri. Yang jelas, ada semangat konsolidasi ideologi yang sama," tegasnya.

Menurut Tjahjo, PDIP tidak ingin sembarangan mengajak berkoalisi parpol lain. Pertimbangan utama tetap harus memiliki platform ideologi yang sama. Setidaknya, kata Tjahjo, menerima secara tulus Pancasila 1 Juni sebagai ideologi bangsa yang harus dijunjung tinggi. "Jadi, bukan sekadar kepentingan politik semata," ujarnya.

Tjahjo menuturkan, upaya menggabungkan parpol-parpol banteng di bawah bendera PDIP sudah dimulai pasca 2004. Terutama menjelang Pemilu 2009. Namun, usaha itu belum berhasil. "Wajar lah, ketika mendirikan parpol pasti ada unsur kepentingan politik praktis. Dan, itu sah," kata Tjahjo.Apalagi, imbuh dia, semangat yang dibawa PDIP sama sekali tidak untuk mematikan eksistensi suatu parpol. Walaupun terhitung kecil, setiap parpol memiliki semangat dan prinsip masing-masing yang harus dihormati. "Toh, yang menentukan juga rakyat pemilih," ujarnya.

Dalam proses ke depan, Tjahjo mengharapkan terjadi konsolidasi kelompok partai-partai banteng. Minimal untuk meluruskan kembali jejak-jejak pemikiran Bung Karno, terutama mengenai ideologi Pancasila dan ajaran trisakti. "Dibangun kebersamaan. Soal beda partai, saya kira tidak ada masalah. Anggap saja berbagai partai itu layaknya taman sari," kata Tjahjo.

Untuk menghadapi Pemilu 2014, sejumlah kelompok parpol penghuni Senayan memang semakin giat memperkuat barisan. Selain konsolidasi internal, mereka mencoba mengajak parpol lain untuk bergabung dengan berbagai model koalisi. Partai Amanat Nasional (PAN) mewacanakan konfederasi parpol layaknya Barisan Nasional di Malaysia. Setidaknya empat parpol gurem, termasuk Partai Matahari Bangsa (PMB), kini tengah dibangun komunikasinya secara intensif.

Partai Golkar tak mau kalah pamor. Beringin pun mulai mendekati Partai Bintang Reformasi (PBR) yang masih menguasai 391 kursi DPRD provinsi, kabupaten, dan kota se-Indonesia. PBR memang cukup kuat di Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, NTB, dan Papua.

Manuver Partai Golkar itu direspons serius oleh elite Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Partai berlambang Kakbah itu tidak rela PBR yang lahir pada 20 Januari 2002 sebagai sempalan dari PPP bernaung di bawah "rimbun beringin". Meskipun konsepnya masih dimatangkan, PPP sangat mengharapkan PBR mau pulang kembali ke pangkuannya. (pri/c4)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar