Perempuan Berkulit Putih Mulus Itu Minta Ineks, Oh Mahal

Perempuan Berkulit Putih Mulus Itu Minta Ineks, Oh Mahal
Petugas menggeledah pengunjung kelab malam di Jakarta. Foto: dok. JawaPos.com

Saya kemudian mengorder taksi online yang menjemput di depan kelab pada pukul 02.45. Sebuah mobil Toyota Avanza silver membawa kami ke tempat yang dimaksud Dara. Sesampai di tempat yang berlokasi di bilangan Mangga Besar itu, kami pun turun, lalu memasuki lobi.

Dara sepertinya sudah biasa hang out di tempat itu. Sembari menunggu di lobi, Dara tampak berbicara dengan seorang resepsionis. Kami lalu diantarkan ke sebuah room karaoke yang lumayan luas. Cukup menampung sampai sepuluh orang di sofa yang berbentuk huruf U. Sebuah televisi berukuran 64 inci menghadap ke sofa. Di pojok ruangan itu terdapat toilet dan ruang tidur.

Setelah kami berenam duduk di situ, seorang waiter datang. Rupanya, dia adalah kenalan Dara. Dia kemudian memutar musik deep house yang bertempo pelan nan menghanyutkan. Dara tampak berbicara kepada orang tersebut.

Waiter itu pun mengangguk. Lalu, Dara menghampiri saya. ''Ada nih, satunya Rp 600 ribu. Ambil tiga, ya. Buat aku sama temen-temen aku,'' ucapnya.

Wow. Tidak menyangka. Ternyata masih ada juga barang seperti itu di ibu kota. Seorang teman saya lalu menyerahkan uang Rp 1,8 juta kepada Dara dan dengan cepat berpindah kepada waiter yang mengenakan rompi hitam di balik kemeja putihnya itu.

Saya kemudian memberikan uang Rp 2 juta untuk ongkos menyewa room selama lima jam plus untuk membeli aneka minuman dan makanan. Total, di tempat itu keluar biaya Rp 3,8 juta. Langkanya mendapatkan membuat harga narkoba melejit.

Berbagai minuman dan buah-buahan yang dipesan datang tidak lama kemudian. Namun, "obat kuat joget" yang diminta Dara baru datang sekitar setengah jam kemudian. ''Kok lama banget obatnya,'' tanya saya kepada waiter itu.

Dia menjawab harus memastikan aman dulu sebelum mengeluarkan obat yang dimaksud. Sebab, saat ini memang benar-benar ketat. Dia tidak mau memberikan kecuali kepada orang yang sudah dikenal. ''Dulu sih enak. Bebas aja kasih ke siapa aja yang mau,'' kata dia.

Sejak ditutupnya Hotel Alexis di Jakarta Utara, ada tanda - tanda para pengedar narkoba di Ibu Kota mulai tiarap, namun masih saja ada dengan harga mahal.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News