Republik Celeng

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Republik Celeng
Ilustrasi. Foto: Menahem Kahana/AFP - The Times of Israel

jpnn.com - Alkisah, pada suatu malam di Peternakan Manor milik Pak Tua Jones ada seekor celeng tua bernama Major yang tengah mengumpulkan rekan-rekannya sesama celeng dan hewan-hewan penghuni peternakan.

Si celeng tua menceritakan mimpinya mengenai sebuah kehidupan yang lebih baik. Selama peternakan dikuasai oleh Pak Tua, hidup warga binatang sangat menderita karena kepemimpinan Pak Tua yang otoriter.

Pak Major menyampaikan permenungannya yang sangat filosofis mengenai kehidupan binatang yang terkekang tanpa kebebasan di peternakan.

Ia bercerita mengenai perenungannya tentang sifat kehidupan binatang.

Perihal hidup mereka yang supersengsara dan penuh perbudakan. Mereka hanya diberi makan untuk menjaga napas mereka, lalu dipaksa kerja keras, dan ketika tidak berguna mereka disembelih dengan cara yang keji.

Dalam orasinya yang sangat menyentuh, Celeng Tua Major mengatakan:

"Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan. Ia tidak mengeluarkan susu, tidak bertelur, dan ia terlalu lemah menarik bajak, ia tidak bisa lari cepat untuk menangkap terwelu. Namun, ia penguasa atas semua binatang. Tenaga kita diperas untuk membajak sawah, kotoran kita diolah untuk menyuburkan tanah. Namun, tak satu pun dari kita memiliki hak atas tanah peternakan yang luas ini."

Si Celeng Tua mengingatkan semua warga peternakan untuk memperkuat solidaritas. Dalam komunikasi sehari-hari ia menginstruksikan semua warga binatang saling memanggil dengan sebutan "Kamerad" yang berarti sobat, teman, atau rekan.

Para celeng mengendalikan Republik Celeng layaknya manusia yang sebelumnya menjajah para binatang.