Manusia Kerdil

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Manusia Kerdil
Dhimam Abror Djuraid. Foto: Ricardo/JPNN.com

Saphiro, seorang Yahudi ortodoks melihat kelompok kanan berada pada sisi yang benar dalam sejarah, karena kelompok kanan memadukan akal (ilmu pengetahuan) dengan iman yang akan menghasilkan keseimbangan.

Kelompok kiri yang liberal, oleh Saphiro dianggap kehilangan keseimbangan karena terlalu menekankan pada kebebasan individual dan sekularisme sehingga mengabaikan peran agama.

Manusia akan sempurna jika bisa memadukan kekuatan akal dan iman menjadi satu. Sebaliknya akan menjadi timpang dan tidak sempurna jika hanya mengedepankan akal saja tanpa iman, atau iman saja tanpa akal.

Saphiro yang merujuk pada tradisi Judeo-Kristiani berpendapat bahwa sebuah bangsa berada pada sisi yang benar jika bisa memadukan “kekuatan Athena” dengan kekuatan “Jerusalem”.

Kekuatan Athena (Yunani) adalah kekuatan akal dan ilmu pengetahuan, sedangkan kekuatan Jerusalem adalah kekuatan iman.

Jauh sebelum muncul gagasan Saphiro, almarhum B.J Habibie pernah mengajukan konsep yang sama dengan menyebut ungkapan “Otak Jerman Hati Mekah”. Perpaduan antara ilmu pengetahuan, teknologi iman, dan takwa. Imtek dan imtak.

Pendidikan Indonesia harus membentuk manusia yang seimbang dalam imtek dan imtak. Manusia yang mempunyai otak ilmu pengetahuan sekelas “otak Jerman” Habibie, tetapi tetap dibarengi hati penuh takwa yang selalu bertaut ke Mekah sebagai kiblat iman.

Ancaman terhadap konsep imtek dan imtak muncul dari pendidikan liberal yang diperkenalkan Nadiem Makarim yang mengagungkan individualisme dan sekularisme.

Sebuah epos besar dilahirkan abad ini, tetapi momen besar itu menemui manusia kerdil.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News